Uncategorized

SATA’LAMU Berjalan Sukses

Masa Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (SATA’LAMU) IAI Madinatul Ulum bagi mahasiswa baru yang berlangsung pada 12-14 September 2026 berjalan sukses.

Banyak jenis kegiatan dalam SATA’LAMU selama tiga hari ini, mulai dari pematerian, ziarah hingga bakti sosial. Berikut catatannya:

Hari Pertama

Setelah melaksanakan acara Launching Kampus IAI Madinatul Ulum sekaligus Opening SATA’LAMU yang meriah dipagi harinya, seluruh mahasiswa baru IAI Madinatul Ulum angkatan pertama ini kemudian mengikuti dua pematerian di siang dan sore harinya, yakni Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara.

Materi Wawasan Kebangsaan

Wawasan Kebangsaan diisi langsung oleh ketua panitia SATA’LAMU, Muhammad Basyir Faiz Maimun Sholeh, M. Ag. Dimoderatori oleh Dr. Farid, Kaprodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI).

Basyir menjelaskan pengetahuan, kepemilikan informasi dan hal-hal yang bersangkutpaut dengan bangsa Indonesia, seperti sejarah, pemerintahan, struktur sosial hingga keagamaan.

“Jadi wawasan kebangsaan ini ruang lingkupnya lebar sekali,” kata Basyir.

Menurut dosen lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, wawasan kebangsaan penting diketahui mahasiswa karena kita lahir dan hidup di bangsa dan negara ini. Sebagaimana ungkapan: afdlalul ilmi ilmul hal.

“Sebaik-baiknya ilmu adalah mempelajari hal-hal yang di depan mata,” jelasnya, “bangsa dan negara Indonesia ada di depan mata kalian.”

Misalnya, tentang keagamaan, sebagaimana agama yang resmi diakui oleh negara. Mahasiswa harus bisa mengaktualisasikan ajaran agama itu sendiri, misalnya tentang tauhid. Dengan memiliki keimanan yang kuat, kita tidak akan bermaksiat.

“Mengaktualisasikan wawasan kebangsaan juga demikian, misalnya ketika hendak mengadakan acara sosial, kita harus meminta izin kepada polsek, atau jika ruang yang lebih lagi ke polres, polda,” tuturnya, “itu contoh paling sederhana dan fungsi dari wawasan kebangsaan.”

Namun, kata Basyir, wawasan kebangsaan tidak sesederhana itu. Ada yang lebih esensial dan filosofis. Misalnya konsep koperasi menurut Mohammad Hatta dan gerakan mahasiswa tahun 1998.

“Problem kita hanya hafal saja, tetapi kita tidak mengerti gagasan dan landasannya, mulai dari gagasan Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, Jokowi hingga Prabowo. Begitu juga tokoh-tokoh lain, seperti Sjahrir, Hatta.”

Karena itu, mahasiswa harus rajin baca buku dan memahaminya, harus tahu gagasan kebangsaan dan mempraktekkan keadilan sosial dan kemanusiaan yang adil dan beradab, butir-butir nilai-nilai Pancasila.

Menurut Basyir, mahasiwa harus memiliki warisan intelektual dan mewariskannya kepada generasi selanjutnya.

Materi Bela Negara

Pematerian selanjutnya diisi oleh Komandan Distrik Militer  (Dandim) 0824 Jember, Letnan Kolonel Inf. Rifqi Muhammad Syuhada, S.I.P., M.I.P.

Menariknya, penyajiannya dimoderatori langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Ulum KH Muhammad Luthfi Ahmad.

Kyai Luthfi membuka bahwa Madinatul Ulum berarti kota ilmu. Kata Ulum sendiri bentuk jama’ dari ilmu, bermakna banyak ilmu dengan berbagai macam variable. Harapannya, perguruan tinggi ini nanti membuka jurusan sains dan teknologi.

“Mudah-mudahan, dengan dorongan dan motivasi Bapak Dandim, para mahasiswa dan mahasiswi ini mampu berkiprah yang bermanfaat bagi masyarakat, wa bil khusus  memiliki benteng kekuatan iman dan takwa, akhlak, dengan aspek dan potensi yang dimiliki,” harap Kyai Luthfi.

 Dandim lalu banyak menjelaskan soal kebangsaan dan bela negara dengan memaparkan terlebih dahulu kondisi geopolitik internasional dan nasional: perkembangan, ancaman dan tantangannya, baik di bidang militer, pertahanan, ekonomi, sosial-keagamaan, pangan, pertanian, sumber energi, teknologi hingga ideologi, dimana pemerintah tetap berusaha menjaga negara ini agar terus bertahan dan berdaulat.

Menurut Dandim yang berlatar belakang kopassus ini, Indonesia memiliki wilayah yang subur seperti nikel, tambang dan lainnya. Termasuk Jember, kuat di komoditas beras, jagung, kopi, tebu dan edamame. Hasil sumberdaya alamnya bahkan sampai diekspor ke luar negeri.

“Kita harus menjaga dan merawatnya serta meneruskan perjuangan para pendiri bangsa,” pesan Dandim.

Dandim juga berpesan kepada mahasiswi untuk meneruskan perjuangan ini. “Perempuan juga banyak berjuang dalam memperjuangkan kemerdekaan. Seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutia, dan lainnya,” katanya.

“Kalau kau memikirkan dirimu sendiri, tidak ada gunanya. Kalau kau memikirkan orang banyak, kepentingan bangsa dan negara, artinya kau memiliki kesetiaan kepada negaramu. Dirimu suatu saat akan berguna untuk negara. Itu yang kita harapkan,” tambahnya.

Dandim menekankan, mahasiswa harus meningkatkan kualitasnya, terutama dalam rangka menuju Indonesia Emas 2045 nanti, saat Indonesia berumur 100 tahun. Diperkirakan nanti usia produktif lebih banyak daripada usia tidak produktif, dan Indonesia diprediksi sudah cukup untuk survive dan menguasai kancah dunia. “Kalian pelopor untuk menuju Indonesia Emas,” pesannya.

 “Adik-adik sekarang umur 19 tahun. Pada 2045 nanti, berarti usia kalian 38 tahun. Pertanyaannya, saat berusia 38 tahun atau 19 tahun kedepan, posisimu sebagai pengangguran atau pribadi yang koruptif, apa kau memimpin suatu perusahaan atau kau menjadi leader? Satu-satunya cara adalah kau isi dirimu dengan ilmu!” jelas Dandim.

Sebab, jika mahasiswa sekarang tidak mengisi dirinya dengan ilmu, maka akan kalah bersaing dengan yang lain. Bahkan, perjuangan kemerdekaan bangsa dimulai dari anak muda yang mengambil peran, semisal Boedi Oetomo yang visioner.

“Sembilan belas tahun kedepan, apakah kau sebagai follower atau menjadi leader? Isi dirimu saat ini. Kesempatanmu besar. Persaingan global semakin berat. Harus diisi dengan ilmu, dengan pengetahuan. Harus diisi dengan ilmu sehingga memiliki nilai manfaat sehingga kau berguna untuk orang lain,” pesannya.

Materi bela negara sendiri sesuai konstitusi UUD 1945 Pasal 27 ayat (3) yang berbunyi: “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.”

“Tentu sesuai dengan bidangnya masing-masing, sesuai dengan kemampuan masing-masing,” kata Dandim.

Dalam presentasi kali ini, Dandim banyak berpesan dan memotivasi mahasiswa. Berikut petikannya:

Kamu harus memiliki peran, kamu harus memberikan sesuatu pada lingkungan!

Anak muda sekarang harus mengisi diri dengan baik. Kau ambil kesempatan hari ini dengan kegiatan positif, bertujuan untuk kemajuan bangsa dan negara!

Yang pasti, dirimu harus berkorban untuk masa muda atau berkorban demi cita-cita masa depan! Masa muda untuk masa depan!

Kalau kau dimasa produktif ini menyia-menyiakan, maka hasilnya waktumu akan terbuang. Artinya kamu akan tertinggal di masa depan!

Gunakan harimu setiap hari untuk belajar! Gunakan setiap hari waktumu untuk menerima ilmu! Harus ada setiap hari ilmu yang kau dapatkan.

Jangan kau menyia-nyiakan waktu untuk apapun! Penyesalannya bukan sekarang, tapi dimasa depan: pasti kau akan menyesal!

Tetapkan: saya harus bekerja keras sekarang untuk masa depan saya.

Kamu masih usia produktif: cari ilmu, cari ilmu sedalam mungkin agar kamu bisa menjadi figur atau referensi terkecil: dari keluargamu, anak-anakmu. Kalau kamu belajar, kamu ajarkan kepada anak-anakmu. Ilmu itu akan turun kebawah.

Kalian manfaatkan waktu, korbankan masa mudamu untuk belajar, itu yang menjadikan masa depanmu lebih baik.

Integritas: Menyusun waktu dengan kedisiplinanmu. Tepat waktu, belajar, rutinitas yang menjadi disiplin. Membawa kemajuan bangsa, dari dirimu baik, kelompokmu baik. Untuk  bangsa, bangsa Indonesia.

Tidak ada yang instan dalam kehidupan. Hidup milik yang konsisten dan mau belajar. Bila kau buru-buru untuk mendapatkan sesuatu yang besar maka hasilnya akan mudah jatuh lebih cepat, tetapi bila  kau menyusun pondasinya tahap demi tahap secara konsisten, itu melahirkan dirimu menjadi orang yang kuat dan kau akan bertahan lama dalam jalannya kehidupan.

Kehidupan yang kau jalani ini bukan lari sprint, tetapi lari maraton: bagaimana orang yang konsisten, kuat berlari, akan mencapai finis lebih baik daripada lainnya. Kau bukan lari sprint-buru-buru, lari kuat-kuatan, bukan. Namun kau harus konsisten melangkahkan kakimu, langkah demi langkah.

Perbanyak literasi, belajar untuk tingkatkan kualitas diri. Dengan kualitas diri yang meningkat, yakinkan, keberadabanmu semakin tinggi. Kita akan terus maju.

You are not a follower but you are a pioneer and leader. Anda bukan pengikut tapi anda pelopor dan pemimpin. Untuk diri dan keluargamu dan terus…

Pendidikan bukan meningkatkan kebodohan tetapi pendidikan melahirkan kecerdasan.

Pendidikan melahirkan SDM yang kuat. SDM yang kuat melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang dihandalkan untuk nusa dan bangsa.

Di belakangmu ada orangtuamu yang berjuanng untukmu dan berharap kamu lebih hebat dari mereka. Kau harus mampu menjadi kebanggaan mereka. Kau harus mampu dibanggakan orangtuamu!

Ilmu itu penting. Penting!

Dirimu boleh Lelah, tetapi kamu tidak boleh menyerah!

Kamu punya tantangan: saatnya kamu wujudkan dan membanggakan!

Orangtuamu sudah berjuang keras untuk dirimu agar masa depanmu lebih baik dari mereka. Kau harus berjuang untuk dirimu dan keluargamu!

Senantiasa berbuat yang terbaik untuk negara kesatuan republik Indonesia…jaga jati diri pemuda-pemudi…berbudi yang luhur.

Dan saya yakinkan, kalian lebih beruntung karena kau digawangi secara keyakinan agama. Kau beruntung dua kali: dapat ilmu dan agama.

Mari bersama jaga masa depan Jember dan Indonesia.

Knowledge is the power but character is more.

Kalau hanya mementingkan dirimu sendiri, kau akan merusak orang lain. Tetapi jika kau memiliki karakter yang kuat, diisi dengan ilmu yang kuat, dirimu akan menjadi generasi penerus dalam menyiapkan-mengisi Indonesia Emas 2045.

Kamu, mau jadi follower atau kamu menjadi leader di Indonesia 2045? Yang bisa jawab dirimu sendiri, yang bisa menyiapkan adalah perjuangan kamu sendiri. Yang bisa meyakinkan dirimu hanya ilmumu sendiri. Artinya, semua tergantung dari dirimu.

Gurumu mungkin memberikan ilmu, orangtuamu memberikan support materi dan lain-lain, tetapi jika kamu tidak memanfaatkan momen ini, itu hanya akan menjadi penyesalanmu di masa depan.

…NKRI bergantung pada kita semua…pilihannya: kamu siap atau tidak!? Kamu menjadi SDM yang berguna atau tidak, tergantung dirimu.

  Selain banyak memberikan materi dan motivasi secara langsung, pemateri juga memutar video pendek tentang perjuangan ayah dan ibu dalam membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya sampai banyak membuat peserta meneteskan air mata.

Hari Kedua

Hari kedua kegiatan SATA’LAMU diisi oleh empat jenis kegiatan. Yaitu pematerian pertama pukul 09.30-10,30 WIB., pematerian kedua pukul 10.30-11.30 Wib, pematerian ketiga pukul 13.00-14.00 WIB, dilanjut dengan pematerian keempat pukul 14.00-15.00 WIB lalu pematerian kelima pukul 15.30-14.30 WIB kemudian diakhiri dengan kegiatan bakti sosial di jam terakhir, yaitu pukul 16.30-selesai.

Materi Teknologi Digital

Pematerian pertama diisi oleh Fery Maulana Malik, M.E., bertema Teknologi Digital Sebagai Instrumen Pengembangan Tradisi Keilmuan Perguruan Tinggi dan Pesantren. Moderatornya adalah Urwatul Usko, M.Ag., Kaprodi Ilmu Hadis (IH). Fery banyak menjelaskan transformasi tradisi keilmuan di era digital, digitalisasi sumber dan akses keilmuan dan etika dan adab digital mahasantri.     

Menurut Fery, sekarang era digital 5.0 dimana semua orang tidak lepas dari digital. Misalnya, bangun tidur kita lihat handphone (Hp), cari informasi melalui Hp, mencari hiburan lihat Hp. “Kita harus melek teknologi,” kata Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IAI Madinatul Ulum itu.

Bahkan, sekarang untuk mencari ide bisa lewat Artificial Intelligent (AI), kecerdasan buatan. “Cuman memiliki kerentanan. Jangan tergantung pada AI,” jelas Fery.

Fery kemudian menjelaskan perbedaan mahasiswa dulu dan sekarang. Zaman dahulu, sampai tahun 2010-an, mahasiswa  cari referensi di perpustakaan, jurnal manual, diskusi tatap muka. Rata-rata bersumber dari dosen. Namun sekarang, mahasiswa mencari referensi di Smartphone: download e-book, e-jurnal, report story, website, dari Hp.

“Jadi, tidak ada alasan mahasiswa untuk malas baca. Akses mudah,” kata Fery.

Mahasiswa IAI Madinatul Ulum memiliki kelebihan. Memilki dua peran: mahasiswa dan santri. Dua pisau yang tajam. Sebagai mahasiswa memiliki tripologi mahasiswa, yaitu agent of change, agent of control dan agent of analysis. Sebagai santri memiliki konsep ta’lim, tarbiyah dan ta’dib (membangun adab).

“Tradisi pesantren mengajarkan ta’lim, ta’dib dan tarbiyah. Membentuk karakter. Kampus mengajarkan berpikir kritis, bisa memecahkan masalah dan menghasilkan gagasan. Kita sebagai mahasiswa di kampus, juga sebagai santri di pesantren. Jadi keilmuan ada, adab juga ada,” jelas Fery.

Berbeda dengan mahasiswa di luar yang berilmu saja. Mahasiswa di sini beradab dan berkarakter juga.

Fery kemudian menjelaskan tentang sumber pembelajaran kita, yaitu buku, jurnal ilmiah, perpustakaan kampus (report story), dan website resmi kampus.

Fery berpesan, di era digital ini mahasiswa harus pandai-pandai memilih informasi. Pertama, sumber atau penulisnya terpercaya apa tidak. Harus jelas. Kedua, jika terpercaya, kita harus cari penguat, data pendukung. Terakhir, apakah informasi itu dibenarkan oleh sumber yang lain.

Fery lalu memaparkan tujuh adab digital bagi mahasantri. Pertama, berpikir sebelum mengunggah. Kedua, beradab (misalnya bahasa). Ketiga, menjaga privasi kita sendiri. Keempat, periksa dulu sebelum membagikan (sumbernya pasti, penulisnya terperaya atau tidak, manfaat tidak). Ketujuh, hormati perbedaan, mungkin mereka punya dalil lain.

Fery juga berpesan kepada mahasiswa tentang lima kebiasaan sejak hari pertama yang harus terus dilakukan. Pertama, sering membaca buku, meluangkan waktu baca buku. Kedua, menulis, seperti pembuatan makalah. Ketiga, meneliti, misal tugas akhir sebelum lulus. Keempat, mengkritisi dan kelima, mengabdi.

Menjadi mahasantri jangan mengejar ijazah saja. Misalnya hadir saat kuliah saja lalu aktif di medsos saja. Jika itu saja yang dilakukan, maka mahasantri tidak dapat apa-apa.

Pertama, fokus karya ilmiah. Kedua, tingkatkan kemampuan digital. Ketiga,  menambah jejaring, seperti PPL, PKL. Keempat, bangun karakter. Kelima, memiliki kontribusi. Harus punya target: bukan hanya ijazah saja, tetapi memberikan kemanfaatan terhadap orang lain,” jelas Fery.

“Sebagai penutup: teknologi adalah alat, ilmu adalah tujuan, adab adalah pengarah, manfaat adalah orientasi,” pungkas Fery.

 Materi Mahasantri

Materi selanjutnya disampaikan Lora H Abdul Mughits, Lc, MA., bertajuk Mahasantri: Mahasiswa Berkarakter Santri, Berilmu, Beradab dan Berkhidmah. Moderatornya adalah Yudik Pradana, M.Pd., Kaprodi Pendidikan Agama Islam (PAI).

Yudik membuka, mahasantri adalah mahasiswa yang santri yang memiliki sanad keilmuan dan intelektual yang jelas sebagai ciri khasnya. Tidak bersanad ke AI, misalnya. Berilmu artinya berlandaskan tafaqquh fid din dan mengkontekstualisasikan dan mengeksplornya lebih luas.

Yudik kemudian mengutip definisi santri menurut Kyai Hasani Nawawi Sidogiri, yakni orang yang berpegangteguh terhadap Al-Quran dan mengikuti sunnah Rasulullah Saw, kokoh dan teguh pendirian, dan seterusnya, sebagaimana dalam sejarah dan hakekatnya.

 Ra Mughits kemudian menjelaskan, mahasantri berasal dari dua kata, yaitu maha, berarti super, yang agung, besar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), santri adalah orang yang mendalami ilmu agama. Atau orang yang beribadah yang sungguh-sungguh, saleh. Santri juga berarti orang yang menuntut ilmu dan pernah tinggal atau domisili di pesantren.

Kata santri berasal dari sastri (Bahasa Sanskerta). Artinya: melek huruf. Bisa membaca.

Ada juga pendapat kata santri berasal dari kata sun (matahari), three (tiga). Jadi, santri harus memiliki tiga matahari: Iman, Islam dan Ihsan.

Pendapat lain mengatakan bahwa kata santri yang dalam Bahasa Arab terdiri dari lima huruf (sin, nun, ta’, ra’ dan ya’) dapat ditafsirkan sebagai berikut:

Sin, yakni satrul aurah. Menurut aurat.

“Ini perbedaan mahasiswa di pesantren dan di luar,” jelas Ra Mughits.

Nun, yaitu naibul ‘ulama. Kader, pengganti para ulama.

Ta’, berarti tarkul ma’ashi. Meninggalkan maksiat.

Ra Mughits lalu menceritakan Imam Syafii saat baru belajar kepada gurunya, Imam Waqi’. Imam Syafii bertanya kepadanya tentang masalah hafalannya yang mudah lupa. Imam Waqi’ menasehatinya agar meninggalkan maksiat.

Ra’, raisul ummah, pemimpin bangsa, pemimpin umat. “Ini releated dengan sejarah bangsa, Dimana para pejuang kemerdekaan banyak dari kalangan santri,” jelasnya.

Misalnya, pesantren Cangkring ini yang brand-nya Temporan. Pendirinya Kyai Ahmad Said yang termasuk pengasuh Temporan terlama. Leluhurnya, KH Abdul Hamid bin Itsbat, adalah pejuang melawan penjajah Belanda.

“Namun dulu perjuangannya melawan penjajah, sekarang melawan hawa nafsunya, terutama nafsu tidur,” jelasnya, sambil tersenyum.

Ya’, yuhyi kulla syaiin. Santri bisa mengembangkan dan menghidupkan segala sesuatu. Misalnya, pulang ke masyarakat dipasrahi musholla, sekolah, dia bisa menghidupkanya.

“Jadi, mahasantri itu seorang santri yang sangat agung, mulia, besar,” jelasnya.

Dengan kata lain, semua penjelasannya ini menunjukkan mahasiswa berkarakter santri.

Penyaji yang berlatar pendidikan tinggi di Yaman dan Turki itu kemudian menjelaskan mahasantri yang berilmu, bahwa ilmu dulu baru adab. “Artinya ilmu pondasi utamanya. Jika adabnya masih tidak baik, berarti ilmunya kurang,” jelasnya.

Ra Mughits lalu memberikan tips agar mahasiswa sukses dalam menuntut ilmu, supaya meniru cara ulama terdahulu dalam mencari ilmu.

Pertama,  penuntut ilmu tidak akan sukses selama masa studi jika selama studi dia tidak ‘menghinakan dirinya’. Artinya, dia harus bisa merendahkan diri. Misalnya dia di rumah adalah anak kyai atau pejabat, maka ketika mencari ilmu label tersebut jangan dibawa ke pondok.

“Kata Kyai saya, Kyai Abdul Haq Zaini: mon santreh monduk eromanah lora, loranah sabek kadek (kalau santri yang mondok itu di rumahnya lora, ketika mondok taruh dulu loranya),” kata penyaji alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid itu.

“Kata Imam Syafii: selama mondok, taruh dulu identitasnya,” jelasnya.

Imam Syafii mengatakan bahwa orang yang menuntut ilmu tidak akan sukses jika membawa-bawa kemuliaan dirinya dan hartanya, tetapi dengan kerendadan dirinya dan sempitnya (peng)hidup(an).

“Jangan bermewah-mewah. Tirulah  Syaikh Zakariyya Ketika mencari ilmu sampai makan sisa semangka untuk bertahan hidup, dan BJ Habibie yang Ketika belajar di Jerman tidurnya hanya 3 jam sehari semalam,” jelasnya sambil mencohtohkan.

“Minimal jenengan ketika kuliah, ketika SATA’LAMU harus semangat, harus tidak tidur,” tuturnya.

Kemudian, Ra Mugits menjelaskan varian terakhhir dari judul pematerian kali ini, yakni tentang khidmah seraya mengutip pendapat ulama. “Wa khidmatul ulama aflah, lebih beruntung ketika kita berkhidmah kepada ulama,” katanya, mengutip Imam Syafi’i.

“Maka betul kata Gubernur kemarin dalam sambutannya: mahasantri tidak hanya cukup mampu membaca  kitab kuning, tapi juga harus mampu membaca zaman dan serta mampu membaca kebutuhan umat,” katanya.

“Ini sesuai dengan tuntutan yang dalam Islam: al-Islamu sholihun likulli zamanin wa makanin,” pungkasnya.

Materi Arah Pengembangan IAI Madinatul Ulum

Materi selanjutnya berjudul Arah Pengembangan IAI Madinatul Ulum oleh jajaran rektorat IAI Madinatul Ulum Cangkring Jenggawah Jember.

Rektor IAI Madinatul Ulum Imdad Fahmi Azizi menjelaskan bahwa kampus ini adalah perguruan tinggi yang berada didalam ruang lingkup pesantren yakni Pondok Pesantren Madinatul Ulum yang basic pendidikannya adalah Pondok Pesantren Al-Wafa Tempurejo yang berbasis salaf dengan distingsi adab dan etika yang khas sebagai adab dan etika mahasantri.

Kedua, sebagaimana visi IAI Madinatul Ulum, menjadi pusat keilmuan yang mendalami agama (tafaqquh fid din) dan mengembangkan ilmu pengetahuan untuk peradaban Islam, kita belajar di kampus ini dalam rangka tafaqquh fid din. Kedua, mengembangkan ilmu pengetahuan dan sains. Tetap belajar ilmu pengetahuan dan sains. Kita harus menjadi leader, bukan follower. Ketiga, untuk membangun peradaban Islam,” jelasnya.

“Kita perguruan tinggi serius. Kita kuliah beneran. Tatap muka. Bersanad, sebagaimana ciri khas pesantren. Pada perkembangan kedepan kita akan membuka program pascasarjana. Kedepan kita ingin mengembangkannya ke universitas,” tambahnya.

“Tetap semangat, terus belajar! Masa  depanmu ada di tanganmu!” kata rektor, memotivasi.

Tidak lupa Ahmad Sururi selaku Warek 1 IAI Madinatul Ulum mengucapkan selamat datang kepada semua mahasiswa baru dan berharap lulus semua sesuai harapan, minimal tepat waktu. Mahasiswa diharap punya kemauan dan usaha untuk belajar di IAI Madinatul Ulum. “Harapannya,  kita di IAI Madinatul Ulum menjadi lebih baik,” katanya.

Faisol Abda’ selaku Warek 2 IAI Madinatul Ulum banyak membahas soal keuangan, terutama terkat daftar ulang, sistem pembayaran, tempat perkuliahan, beasiswa dan sebagainya. “Yang ingin saya tegaskan jangan smapai jenengan putus kuliah gara-gara keuangan, silakan nanti konsultasi ke bagian terkait, yakni kasubag akademik dan keuangan,” ujarnya.

“Kalian menjadi mahasiswa harus aktif, mencari bola. Yang kita tekankan: kampus yang berbasis pesantren tidak menghilangkan budaya santrinya…Terakhir: panjenengan sudah mahasiswa, bedakan antara siswa dan mahasiwa. (Mahasiswa) bukan disuapi tapi makan sendiri: (begitu juga) tentang ilmu. Hidup kalian, kalian sendiri yang menentukan, yang mengarahkan,” pungkasnya.

Kegiatan kemahasiswaan kemudian dipecah menjadi empat kelompok sesuai prodi yang ada, yakni Pendidikan Agama Islam (PAI), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Ilmu Hadis (Ilmu Hadis) dan Ekonomi Syariah (ES) kemudia dipimpin oleh pimpinan dan dosen di masing-masing prodi.

Agenda di hari kedua ini lalu diakhiri dengan bakti sosial dengan menyerahkan caping kepada para petani di sekitar. “Alhamdulillah, para petani senang sekali mendapatkan caping semua,” kata Pak Tuki, petani asal desa Cangkring.

Hari Ketiga

Hari terakhir SATA’LAMU diisi ziarah maqbarah para masyayikh dan pendiri pesantren, lalu pematerian akhir oleh Pengasuh Pondok Pesantren Madinatul Ulum, KH Muhammad Luthfi Ahmad tentang Kepesantrenan: Visi Madinatul Ulum dan Komitmen Keilmuan.

“Anda adalah pencetak sejarah: perguruan tinggi di desa. Bahwa menuntut ilmu tidak hanya di kota, tapi dimana-mana,” kata Kyai Luthfi, mengawali pembahasannya.

Kyai Luthfi kemudian menjelaskan bahwa Madinatul Ulum yang berarti kota ilmu terdiri dari kata ulum, jama’ kata ‘ilm, yakni berbagai macam ilmu, komprehensif. Misalnya makna khamr, tidak diartikan minuman yang memabukkan, tetapi sesuatu yang memabukkan, karena ada sesuatu yang memabukkan tapi tidak diminum. Adapun kata madinah infrastruktur.

Panjenengan, anak-anakku, menjadi pemeran, subjek, bukan obyek,” simpul Kyai Luthfi.

Untuk menjadi pemeran, terutama sebagai civitas akademika IAI Madinatul Ulum, Kyai Lutfi mengambil seminal konsep di dalam Al-Quran, yakni QS Al-Qashash ayat 26 : … inna akh khaira man ista’jarta al-qawiyyu al-amin, bahwa orang yang engkau pekerjaan (yakni Nabi Musa) adalah al-qawiyyu al-amin.

Al-qawiyyu yaitu skill. “Skill ada dua, fisik dan intelektual,” jelas Kyai Luthfi.

“Adapun al-amin adalah jujur,” tambahnya.

Menurut pengalaman Kyai Luthfi, konsep Al-Quran ini menjadi salah satu konsep di International Labour Organization (ILO), badan khusus di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurusi tenaga kerja (buruh).

“Pemikiran manusia jika obyektif akan kembali ke Al-Quran,” simpulnya.

Kyai Luthfi kemudian menjelaskan komitmen pengembangan keilmuan Madinatul Ulum.

“Pondok ini, didirikan bapak, tidak terikat ke organisasi apapun. Karena fanatisme ke satu organisasi membuat eksklusif,” tutur Kyai Luthfi.

Kyai Luthfi lalu menyebut ayat: likulli wijhatun huwa muwalliha fastabiqul khairat.

“Yang penting memberikan manfaat. Anggaran Dasarnya sama: mencetak manusia seutuhnya,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sangat berharga bagi segenap civitas akademika IAI Madinatul Ulum ini, Kyai Luthfi juga memaparkan konsep tafaqquh fid din secara dirayah terhadap ayat Al-Quran, termasuk integrasi penafsiran Al-Quran, ilmu pengetehuan dan sains. Kyai Luthfi menyebut beberapa ayat tentang Nabi Uzair, Ashhabul Kahfi, hingga Fir’aun, menafsirkannya secara ilmiah, interkoneksi, perbandingan dan tematik-yang menginspirasi ilmu forensik.

“Ilmu dulu, baru organisasi,” katanya, terkait IAI Madinatul Ulum, lalu menyebut jurusan yang perlu didirikan lagi menuju universitas: politik praktis (sosial-politik), politik ekonomi dan politik pertanian.

Kyai menceritakan kisah Nabi Yusuf sebagai bendaharawan atau pengelola kekayaan Mesir (khazainil ardl) sebagaimana juga dikutip Al-Quran: inni hafidzun ‘alim.

“Laki-laki atau perempuan, jika berilmu, bermanfaat di masyarakat,” jelas Kyai Luthfi.

Di dalam masyarakat, lanjut Kyai Luthfi, kekuatan pribadi untuk memberikan manfaat supaya lebih ditekankan terlebih dahulu, bukan organisasi dulu.

Selain membahas penempatan hujjah yang harus tepat dalam memahami agama, Kyai Luthfi juga membahas tantangan kita dalam mengkaji psikologi modern, misalnya pemikiran Sigmund Freud yang sudah diutarakan Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah.

Penutup

Closing Ceremony diisi sambutan oleh Ketua Panitia SATA’LAMU dan Rektor IAI Madinatul Ulum, kemudian penganugerahan peserta terbaik, pelepasan name tag, lalu penutup-doa.

Muhammad Basyir Faiz Maimun Sholeh, Ketua Panitia SATA’LAMU, melaporkan bahwa jumlah peserta yang ikut sebanyak 74 orang dari total 84 pendaftar.

Mereka yang tidak mengikuti agenda wajib ini karena beberapa alasan, antara lain faktor keluarga dan kelembagaan-sedang menjalani penugasan pesantren di luar daerah.

Dosen Bahasa Inggris itu kemudian menyampaikan beberapa pesan kepada semua peserta SATA’LAMU, sebagai berikut:

Pertama, bahwa SATA’LAMU ini merupakan permulaan bagi mahasiswa IAI Madinatul Ulum dengan harapan husnul khatimah, tidak hanya diawal proses ini saja yang baik, tetapi diakhir studi nanti juga baik juga.

Kedua, kesuksesan mengikuti SATA’LAMU ini dapat diukur dari 8 semester kedepan. Apakah tidak cangkolang (eror) dalam kuliah nanti? Apakah bisa benar dalam kuliah terutama soal etika? Sebagai evaluasi.

Ketika, kampus ini berada dibawah naungan pondok pesantren. Mahasiswa sudah diajak ke astah (maqbarah), diajarkan tentang etika dan lain-lain. “Jadi ini tolong diperhatikan,” kata Basyir.

Keempat, Basyir memohon maaf kepada semua peserta jika banyak kekurangan. “Misalnya kipasnya kurang,” ujarnya.

Kelima, Basyir menyampaikan terimakasih banyak kepada semua pihak yang mensukseskan acara ini, terutama kepada semua panitia yang telah meluangkan banyak waktu dan materinya, pihak multimedia, terop dan juga bagian sound system. “Sebab kalua tidak ada pengeras suaranya, saya bisa teriak-teriak,” pungkasnya.

Adapun Rektor IAI Madinatul Ulum menyampaikan kesyukurannya akan terselenggarannya acara ini dan mengucapkan terimakasih kepada semuanya, terutama bagian humas dan panitia yang terdiri dari dosen IAI Madinatul Ulum yang telah mensukseskan acara ini.

Tidak lupa, rektor menyampaikan pesan mendalam kepada seluruh peserta. “Ini adalah amanah sekaligus tantangan. Kita masih terbatas. Saya titip kampus dan perkuliahan ini kepada kalian untuk tetap bermuraqabah kepada Allah,” tuturnya.

Acara diakhiri dengan penganugerakan peserta terbaik, pemberian hadiah, pelepasan name tag yang menandakan seluruh peserta SATA’LAMU kini telah resmi menjadi mahasiswa IAI Madinatul Ulum kemudian ditutup dengan doa.      

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *